| Article Index |
|---|
| Jejak Bahari Kota Kapur |
| page 2 |
| All Pages |
Tiga arkeolog yang menumpang perahu beranggapan, ketampakan Bukit Besar dari laut sebagai penunjuk arah lokasi situs Sriwijaya yang terletak di dataran kaki bukit itu. Mereka membayangkan ketika para pelaut zaman dulu menjadikan bukit itu sebagai pedoman memasuki mulut sebuah sungai menuju tempat kedatuan Sriwijaya di pantai barat Pulau Bangka.
Memasuki mulut Sungai Mendo, deru mesin perahu memecah kesunyian hutan mangrove yang terhampar di sepanjang sungai. Sekitar 15 menit menelusuri sungai, tibalah di dermaga Desa Kota Kapur, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Napak tilas pun segera berakhir ketika kaki kembali menginjak tanah di situs Kota Kapur.
Bangkai perahu kuno
Telah 10 hari tim melakukan penelitian arkeologi situs Kota Kapur yang terletak di tepi Sungai Mendo. Situs ini berada pada dataran dari perbukitan yang dikelilingi rawa dan dibentengi gundukan tanah yang memanjang di bagian barat, timur, dan selatan situs.
Dataran yang landai dan bergelombang itu terkenal sebagai tempat ditemukannya prasasti batu berbentuk tugu pada tahun 1892. Prasasti berhuruf Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno yang berangka tahun Saka 608 (686 Masehi) itu disebut Prasasti Kota Kapur, merupakan prasasti Sriwijaya yang pertama kali ditemukan. Pertama kali pula kata Sriwijaya berhasil dibaca para ahli di prasasti itu.
Hasil penelitian kali ini menambah nilai penting situs Kota Kapur. Sejak diteliti tahun 1993 oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, baru sekarang tim arkeologi beruntung menemukan bangkai perahu kuno, yakni pada 25 September 2007.
Temuan inilah yang membuat tim gabungan dari Balai Arkeologi Palembang, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi, serta Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Bangka melakukan napak tilas dari Selat Bangka ke situs Kota Kapur dengan perahu.
Ada dua lokasi temuan sisa-sisa perahu yang terbuat dari jenis kayu besi itu. Penemuan pertama berada pada alur Sungai Kupang yang membelah kawasan situs dan bermuara di Sungai Mendo. Kini sungai itu telah menjadi rawa. Pada rawa yang telah menjadi kolong, kolam bekas penambangan timah inkonvensional oleh penduduk pada tahun 1998-2000, berhasil diangkat sekeping papan perahu berukuran panjang 134 cm, lebar 35 cm, dan tebal 4 cm.
Papan berlubang-lubang dengan diameter lubang rata-rata 3 cm. Pada permukaan papan terdapat 17 lubang dan bagian tepi (tebal) papan ada 20 lubang. Dua tonjolan segi empat yang dipahat di permukaan papan memiliki lubang-lubang yang tembus dengan lubang di tepi papan.
“Masih banyak papan kayu semacam itu yang terbenam dalam air,” ujar Mahadil (60), mantan Kepala Desa Kota Kapur.
Dua hari kemudian lokasi kedua ditemukan, lagi-lagi pada sebuah kolong dengan jarak sekitar 500 meter di barat Sungai Kupang. Informasi berasal dari Yanto, penduduk yang bekerja sebagai penambang timah inkonvensional. Ia mengatakan pernah menemukan pecahan papan yang diduga bekas peti di kolong itu. Tak lama kemudian tim pun berendam mengobok- obok air dan berhasil diangkat lima keping papan perahu dengan panjang 49-120 cm, lebar 8-15 cm, tebal 2-5 cm, dan diameter lubang 1,5-4 cm.
Setelah pengangkatan perahu yang kedua itu, informasi baru dari penduduk terus mengalir tentang kolong-kolong di situs Kota Kapur yang menyimpan bangkai perahu kuno. Tim arkeologi makin yakin Kota Kapur pernah menjadi pelabuhan masa Sriwijaya, bahkan pada masa sebelumnya, kemungkinan berada di sepanjang Sungai Kupang.










Comments
RSS feed for comments to this post.