Arkeologi Indonesia

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
HOME Articles Arkeologi Kesejarahan Wisata Gereja Tua Jakarta, Menggali Memori lewat Rumah Ibadah

Wisata Gereja Tua Jakarta, Menggali Memori lewat Rumah Ibadah

E-mail Print PDF
JAKARTA – Gereja tua bukan saja sebagai rumah Tuhan umat Kristiani, namun juga mampu berperan sebagai kenangan di tengah modernisasi kota. Dari situ, gereja tua bisa jadi pengorek memori histori yang andal. Itu sebabnya, pelestarian gereja tua perlu mendapat perhatian. Sayangnya gereja tua ini terkesan hanya sekadar pajangan. Pasalnya pada hari kerja hanya dikunjungi wisatawan asing saja.

Sebagian besar warga kota hanya memandang gereja tua sebagai rumah ibadah. Ibarat penyakit menahun, pandangan sempit ini tak pernah pupus dalam diri. Selalu saja membuka jarak dengan posisi gereja tua. Alhasil tak ada keinginan untuk bergaul lebih dekat. Padahal bila ditelusuri, gereja tua mampu menguak sepenggal kisah unik Jakarta.

Bila penasaran, silakan buka catatan sejarah tentang keberadaan gereja tua di Ibu Kota. Saat bedah ilmiah selesai, kenapa tak mencoba melihatnya dari dekat? Membuktikan apakah catatan itu masih valid, atau malah sudah harus direvisi. Dengan cara ini, dijamin kita bakal terseret ke dalam permainan sejarah metropolitan ini.

Gereja Sion bisa jadi contoh pembuka. Gereja yang terletak di sudut Jalan Pangeran Jayakarta dan Mangga Dua Raya ini punya segudang memori. Dari kisah pembuatan, kemegahan arsitektur hingga kiat bertahan di tengah laju modernisasi kota.

Adolf Heuken SJ - pengamat sejarah Jakarta – menyebutkan, dulu Gereja Sion ini disebut Gereja Portugis. Gereja ini punya nama Belanda, Portugeesche Buitenkerk. Artinya, Gereja Portugis di luar (tembok) Kota. Semasa Kompeni menguasai Batavia, dibangun tembok tinggi sebagai batas kota. Sampai awal abad ke-19 masih ada gereja Portugis lainnya, yang ada di dalam kota.

”Mulai tahun 1957, oleh sinode (rapat akbar), gereja ini resmi disebut Gereja Sion,” tutur Hadikusumo, kepala tata usaha Gereja Sion. Sion berasal dari bahasa Israel dan merupakan lambang bukit keselamatan. Jadi dipilih nama Sion dengan harapan, setiap jemaat akan diberkati sehabis beribadah di sini.

Gereja Portugis selesai dibangun pada 1695. Peresmian gedung gereja dilakukan pada hari Minggu, 23 Oktober 1695 dengan pemberkatan oleh Pendeta Theodorus Zas. Pembangunan fisik memakan waktu sekitar dua tahun. Peletakan batu pertama dilakukan Pieter van Hoorn pada 19 Oktober 1693. Cerita lengkap pemberkatan gereja ini tertulis dalam bahasa Belanda pada sebuah papan peringatan. Sampai sekarang, masih bisa dilihat di dinding gereja.

Gereja dibangun dengan fondasi 10.000 batang kayu dolken atau balok bundar. Konstruksi ini berdasarkan rancangan Mr E. Ewout Verhagen dari Rotterdam. ”Seluruh tembok bangunan terbuat dari batu bata yang direkatkan dengan campuran pasir dan gula tahan panas,” cerita Hadikusumo, pria ramah asal Yogyakarta.

Bangunan berbentuk persegi empat ini punya luas total 24 x 32 meter persegi. Pada bagian belakang, dibangun bangunan tambahan berukuran 6 x 18 meter persegi. Gereja mampu menampung 1.000 jemaat. Sedang luas tanah seluruhnya 6.725 meter persegi.

Menurut Heuken, Gereja Portugis termasuk gereja bangsal (hall church). Gereja ini membentuk satu ruang panjang dengan tiga bagian langit-langit kayu yang sama tingginya dan melengkung seperti setengah tong. Langit-langit itu disangga enam tiang.

Interior
Boleh dibilang Gereja Portugis merupakan gedung tertua di Jakarta yang masih dipakai untuk tujuan semula seperti saat awal didirikan. Rumah ibadah ini masih memiliki sebagian besar perabot yang sama juga. Sudah pasti, gedung ini termasuk bangunan budaya yang amat bernilai. Dari catatan Heuken, Gereja Portugis pernah dipugar pada 1920 dan sekali lagi pada 1978.

Jika melongok ke bagian dalam, ada mimbar unik bergaya Barok. Salah satu perabot asli gereja ini merupakan persembahan indah dari H. Bruijn. Letaknya ada di bagian belakang bersama bangunan tambahan. Mimbar ini bertudung sebuah kanopi, yang ditopang dua tiang bergulir dengan gaya rias Ionic serta empat tonggak perunggu.

Beberapa kursi berukiran bagus dan bangku dari kayu hitam atau eboni masih juga dipakai. Dilengkapi meja kayu, kursi-kursi itu dipakai untuk kepentingan rapat gereja. Tak ketinggalan acara sidang pencatatan sipil bagi anggota jemaat yang akan menikah secara gerejawi.

Selain itu, ada organ seruling (orgel) gereja yang sampai sekarang masih terawat baik. Organ ini diletakkan di balkon yang disangga empat tiang langsing. Kata Hadikususmo, organ pemberian putri seorang pendeta bernama John Maurits Moor ini terakhir kali dipakai pada 8 Oktober 2000. Waktu itu, komponis Marusya Abdullah Nainggolan memainkan organ untuk mengiringi ibadah Minggu.

Gereja Sion dibangun sebagai pengganti sebuah pondok terbuka yang sangat sederhana. Pondok ini sudah tak memadai bagi umat Portugis yang berasal dari Malaya dan India untuk beribadah di zaman baheula itu. Sebagai tawanan, mereka ini dibawa ke Batavia oleh perusahaan dagang termasyhur, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) bersamaan dengan jatuhnya wilayah kekuasaan Portugis di India, Malaya, Sri Lanka, dan Maluku.

Dari catatan sejarah, Gereja Sion beberapa kali sempat terancam. Pada masa pendudukan Jepang, bala tentara Dai Nippon ingin menjadikan gereja ini tempat abu tentara yang gugur. Tahun 1984, halaman gereja menyempit karena harus mengalah pada kepentingan pelebaran jalan.

Soal perawatan, Hadikusumo hanya menyebut satu sumber, sumbangan para jemaat. Berkurangnya wilayah hunian sekitar gereja mau tak mau mengurangi sumber pendapatan. Itu sebabnya, Hadikusumo berharap ada campur tangan Pemerintah dalam memelihara gereja. Padahal, bila melihat buku tamu, setiap hari gereja yang dilindungi lewat SK Gubernur DKI Jakarta CB/11/1/12/1972 ini selalu dikunjungi wisatawan mancanegara. Kebanyakan mereka datang dari wilayah Eropa, seperti Belanda, Jerman, Spanyol, Austria, Prancis, Denmark, Swedia dan lainnya.

Dari Gereja Sion, kita bisa mengarahkan tujuan ke daerah Pejambon, tepatnya Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. Di sini, ada sebuah gereja tua yang berdiri gagah di seberang stasiun kereta, Gambir. Gereja yang dibangun atas dasar kesepakatan antara umat Reformasi dan Umat Lutheran di Batavia ini disebut Gereja Immanuel.

Pembangunannya dimulai tahun 1834 dengan mengikuti hasil rancangan J.H. Horst. Pada 24 Agustus 1835, batu pertama diletakkan. Tepat empat tahun kemudian, 24 Agustus 1839, pembangunan berhasil diselesaikan.

Bersamaan dengan itu gedung ini ditahbiskan menjadi gereja untuk menghormati Raja Willem I, raja Belanda. Pada gedung gereja dicantumkan nama ”WILLEMSKERK”.

Gereja bergaya klasisisme itu bercorak bundar di atas fondasi tiga meter. Bagian depan menghadap Stasiun Gambir. Di bagian ini terlihat jelas serambi persegi empat dengan pilar-pilar paladian yang menopang balok mendatar. Paladinisme adalah gaya klasisisme abad ke-18 di Inggris yang menekan simetri dan perbandingan harmonis.

Serambi-serambi di bagian utara dan selatan mengikuti bentuk bundar gereja dengan membentuk dua bundaran konsentrik, yang mengelilingi ruang ibadah.

Lewat konstruksi kubah yang cermat, sinar matahari dapat menerangi seluruh ruangan dengan merata. Menara bundar atau lantern yang pendek di atas kubah dihiasi plesteran bunga teratai dengan enam helai daun, simbol Mesir untuk dewi cahaya.

Organ yang dipakai berangka tahun 1843, hasil buatan J. Datz di Negeri Belanda. Sebelum organ terpasang, sebuah band tampil sebagai pengiring perayaan ibadah. Pada 1985, organ ini dibongkar dan dibersihkan sehingga sampai kini dapat berfungsi dengan baik. (SH/bayu dwi mardana)



Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/
 

Comments  

 
#1 2012-06-01 03:50
kawan-kawan sekalian perlu diketahui bhw gereja sion terletak 200m dari pusat pertokoan mangga dua dan ada rencana mangga dua melebarkan usahanya pesan saya jgn sampai itu mengenai wilayah gereja TERTUA di BATAVIA krn itu merupakan aset yg tak ternilai harganya, bagaimana dengan nasib mesjid2 tua yang juga berdekatan dengan pusat kegiatan ekonomi jgn sampai rmh ibadah yg tdk ternilai harganya baik mesjid maupun gereja tergusur oleh kepentingan segelintir pihak,trims
 

Add comment


Security code
Refresh

Random Image

Who's Online

We have 103 guests online

Comments

26-11-2014By santridanalam
Situs Liyangan Ungkap Mis...
Liyangan tertibun karena Erupsi Sindoro, apa ada data terkait erupsi Sindoro saat itu? Apa bukan eru... readmore
24-11-2014By panji tohjaya
Bisnis Uang Lama Menguntu...
saya berniat untuk menjual uang dari kerajaan belanda tahun 1617 pecahan 2 1/2 golden yang berminat ... readmore
09-11-2014By dwi
The History of Java - Tho...
bagi yang sedang mencari Buku The History Of Java bagi yang di Jogja bisa datang langsung ke Toko Bu... readmore
04-11-2014By Eunike Yuditha
Berkunjung ke Kelenteng S...
Vihara surga neraka ini sudah menjadi bangunan cagar budaya atau belum? readmore
27-10-2014By My School
23-10-2014By kang tomo
Bisnis Uang Lama Menguntu...
Saat ini saya ada uang kuno seri budaya,sukarno, sudirman,pekerj a lengkap Seri hewan ada gajah,maca... readmore
21-10-2014By Joseph Tanuwijaya
Bisnis Uang Lama Menguntu...
Saya punya uang koin Rp.2000,00 seri hewan harimau sumatera tahun 1974.... minat email langsung ke s... readmore
17-10-2014By ally syarif
Melihat Kondisi Kawasan B...
lama kelamaan desa hijauku akan hilan readmore
15-10-2014By Yulianti Arafah
Kejayaan Maritim Nusantar...
Selamat Siang, Nama sy Yulianti, Apakah ada Buku mengenai : "Majapahit Peradaban Maritim dg sub judu... readmore
15-10-2014By JEPRILUMBU
Taman Cinta Sultan Aceh
ARTIKELNYA. SANGAT MEMBANTU PAK.. readmore
RSS