| Article Index |
|---|
| SUPERSEMAR, Gambaran Besar Jiwa Bangsa Kerdil |
| page 2 |
| page 3 |
| page 4 |
| page 5 |
| page 6 |
| page 7 |
| page 8 |
| page 9 |
| All Pages |
NIM. 07/259867/PSA/1820
Program Studi Arkeologi Sekolah Pascasarjana
Universitas Gajah Mada
Yogyakarta
2008
bangsaku sakit
karena tidak bisa menyelesaikan persoalan
beserta dampak ikutannya,
sakit jiwa kolektif itu membuatnya
tetap menjadi bangsa terbelakang
Alhamdulillah Puji Syukur kepada Allah SWT Tuhan Seru Semesta Alam, yang telah merangkaikan gagasan makhluk dunia dalam kuasa-Nya sehingga kesemuanya ini terjadi. Sementara saat ini sangat kecil kemungkinannya, yang penulis rasakan, untuk dapat menuangkan pendapat dalam bentuk tulisan tentang issue Supersemar pada tugas mata kuliah arkeologi, jika bukan karena mata kuliah Historiografi. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Riboet Darmosoetopo sebagai salah satu dosen pengampu mata kuliah ini yang memberi kesempatan untuk menuliskan peristiwa munculnya Supersemar, sebelum dan sesudahnya. Sangat disadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kritik bagi ketercerahan kita semua sangat diharapkan.
Pemilihan kajian ini berdasarkan pada kontroversi mengenai keberadaan surat perintah itu sendiri, selain yang terpenting bagi penulis pribadi rasakan adalah, seperti yang tertuang pada lembar di depan, terlalu banyak beban bangsa yang harus ditanggung karena menghabisi nyawa anak-anak kandungnya sendiri. Terlebih jika ditambah dengan kasus-kasus pembantaian umat manusia oleh manusia lainnya terutama yang dilakukan dengan mengatasnamakan demi keamanan dan stabilitas negara, terentang sejak dari Aceh hingga Papua, maka bangsa ini tidak lebih dari kumpulan binatang di rimba raya Indonesia. Bedanya dia berpakaian untuk menutupi diri sebenarnya yang berlumuran darah saudara-saudaranya, bersenjata untuk kembali menghabisi nyawa saudara-saudaranya, dan pandai beretorika untuk membenarkan tindakan pemberangusan hidup dan kehidupan, sesama manusia Indonesia.
Ironisnya, di kalangan mereka yang berpendidikan, bahkan dengan bangga menyatakan bahwa Soeharto, orang yang paling diuntungkan dengan terjadinya tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah Indonesia, adalah pahlawan. (tidakkah mereka rasa derita 3 juta korban; 65 di Jawa Bali, kasus Tanjung Priok, Talangsari, Aceh, Timor-Timur, Papua, Kerusuhan ‘98 di Solo dan Jakarta, Banongan, Situbondo, Banyuwangi dan lainnya untuk menyebut sedikit kasus di tengah samudra kasus pembantaian manusia di Indonesia). Adakah mereka itu tidak lagi memiliki akal sehat akibat ketiadaan hati nurani ? Adakah mereka manusia Indonesia yang katanya ber-Pancasila ? Tidakkah mereka malu mengaku ber-Tuhan ?
Semoga tulisan ini tetap menjadi cermin bagi penulis pribadi dan bagi pembaca yang selalu bertanya, dalam pertanyaan abadi dan ditanyakan lagi, mengapa negeri ini terlalu senang memakan anaknya sendiri ? Bahwa kebenaran sejati hanyalah milik Allah SWT Tuhan Yang Merahmati Seluruh Alam, tetap merupakan hal yang tidak bisa ditawar, maka kami akan terus bergerak bersama demi terhentinya tangis Ibu Pertiwi, karena diam, bagi kami, adalah pengkhianatan. Terima kasih.
Latar Belakang
Pada empat puluh tahun terakhir ini, historiografi kontemporer Indonesia terutama yang menyangkut "masa-masa yang digelapkan", yaitu tahun 1965 dan sesudahnya masihlah tetap merupakan bidang kajian yang menarik sekaligus menantang. Menarik karena sangat sedikit penulis yang mengkaji masalah ini dan menantang karena sumber-sumber referensi yang menjelaskan periode ini sangat jarang, untuk tidak menyebut tidak ada. Secara kuantitatif, muncul banyak tulisan mengenai tragedi kemanusiaan itu, yang secara signifikan memberikan sumbangan pemikiran terhadap pemahaman bagi perjalanan sejarah republik ini yang tentu saja bukanlah sejarah versi penguasa. Begitu pula secara kualitatif, maka tulisan sekitar "sejarah kelam '65" telah melewati uji publik yang alamiah, melalui perdebatan yang cukup intens di antara para penulis dengan data dan faktanya masing-masing beserta dengan kepentingannya masing-masing pula. Meskipun akhir-akhir ini mulai muncul harapan dan pendapat masyarakat Indonesia untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi saat itu, bagaimana hingga semuanya terjadi dan mengapa peristiwa itu terjadi ?
Bersama dengan pertanyaan tersebut di atas yang hingga kini masihlah tetap menjadi "cerita yang dimisterikan" tidak kalah membingungkannya adalah masalah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), yang muncul enam bulan setelah tragedi G30S. Sehari setelah kemunculannya kemudian berlanjut hingga tahun-tahun sesudahnya, memicu tragedi kemanusiaan pembantaian anggota, simpatisan, beserta keluarga dan keturunannya atau yang diduga terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah nasional Indonesia, yang tak terkatakan dalam teks literatur sejarah, selain bahwa telah terjadi pembunuhan tujuh jenderal oleh PKI. Sejarah negeri yang dibuat sesuai selera rezim berkuasa, tidak mencerminkan keadaan sesungguhnya, didukung oleh seluruh kekuatan, siapapun dan di mana pun dia, yang diuntungkan dengan penyelewengan ini.
Supersemar adalah sarana awal pembenar bagi upaya pemberangusan salah satu kekuatan dunia yang ditakuti lawannya, bahkan oleh Amerika sekalipun. Sehingga segala macam cara digunakan untuk dapat menghancurkan kekuatan komunis di Indonesia yang dikhawatirkan akan memiliki efek domino kepada negara-negara lainnya di Asia Tenggara. Pembunuhan terhadap sekutu sayap kiri Soekarno merupakan produk dari paranoia yang tersebar sebagai suatu kebijakan konspiratorial, dan mencerminkan suatu tragedi di antara intensi dari setiap kelompok dan koalisi. Atau bahkan sebagai suatu bukti dari provokasi dan kekerasan yang dilakukan oleh sayap kanan militer Indonesia. Kontak-kontak mereka di Amerika Serikat, atau (juga penting dan jelas terbuka di sini) hubungan timbal balik intelejen Inggris, Jerman dan Jepang. Dan dengan demikian, setelah semua ini dikemukakan, cerita yang rumit dan ambigiu (mempunyai arti ganda) tentang mandi darah bangsa Indonesia juga merupakan esensi yang sangat sederhana dan sangat mudah untuk dapat dipercayai daripada versi publik yang mengilhami sumber Presiden Soeharto dan pemerintah Amerika Serikat.
Tanggal 11 Maret 1966, Presiden Soekarno mengeluarkan Supersemar kepada Menteri/Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Soeharto yang isinya memberikan wewenang untuk"mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban". Letjen Soeharto yang mendapat surat perintah itu menggunakannya sebagai dasar bagi pembubaran PKI, mengamankan 15 orang menteri Kabinet Dwikora yang Disempurnakan. Dan klimaks dari munculnya Supersemar ini, di kemudian hari direkayasa untuk tidak dapat dicabut oleh sang pemberi wewenang, bahkan Presiden Soekarno tersingkir dari kursi kepresidenannya dan terasing secara politis.
Bagaimana sebenarnya bentuk penugasan Supersemar tersebut ? Apakah skenario kemunculannya telah dirancang sebelumnya ? Mengapa hingga kini sangat sulit mendapatkan bukti naskah asli Supersemar ? Apa kepentingan mereka yang menyembunyikannya ? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangatlah sederhana sebenarnya, namun menjadi rumit ketika semakin hari tidak pernah ada klarifikasi yang komprehensif terhadap masalah yang satu ini. Selain bahwa gerakan-gerakan sporadis dalam meresponnya belum pernah terbukti solid, mengkristal menjadi sebuah kebutuhan bersama akan fakta historis sisi gelap sejarah Indonesia. Dalam rangka menambah sumbangan tulisan berupa sejarah penulisan Supersemar nilah, maka tugas dengan judul di atas menemukan justifikasinya.










Comments
RSS feed for comments to this post.