Muntok, kota sejarah. Berbagai peninggalan bersejarah tersimpan di ibukota Kabupaten Bangka Barat ini. Salah satunya Pesanggrahan Muntok atau lebih dikenal dengan Wisma Ranggam. Pesanggrahan Muntok dibangun tahun 1827 oleh Banka Tin Winning (BTW), perusahaan tambang timah pada masa kolonial Belanda. Pertama kali sebagai tempat pengasingan bagi seorang bangsawan dari tanah Jawa.
Wisma Ranggam, saksi bisu sepenggal kisah hidup dan perjuangan Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia selama masa pengasingan di Bangka medio 1948-1949.
Dari beberapa ceceran catatan sejarah yang ditemui Bangka Pos Group, Wisma Ranggam pernah dijadikan tempat perundingan UNCI, BFO serta KTN pada 22 Juni 1945. Yang paling monumental adalah penyerahan surat kuasa oleh Presiden RI Ir Soekarno kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX tentang pengembalian pusat kekuasaan pemerintahan RI ke Yogyakarta.
Sejarah mencatat, para pemimpin RI mulai diasingkan Belanda ke Muntok pada Desember 1948. Mereka antara lain Bung Hatta, Mr Mohammad Roem, Mr Pringgodigdo, Mr Assa’at, Komodor Suryadarma, dan Ali Sostroamidjoyo. Dua bulan kemudian, tepatnya 6 Februari 1949, menyusul, Presiden RI Ir Soekarno serta Menlu H Agus Salim yang sebelumnya sempat diasingkan di Prapat, Sumatera Utara.
Wisma Ranggam saat ini memang sudah jauh berbeda dengan sepuluh tahun silam. Kala itu wisma yang dibangun di atas lahan 6.859 meter persegi, sangat mengkhawatirkan. Bangunannya tak terawat, bagian-bagiannya masih banyak yang rusak, lingkungan kotor ditumbuhi alang-alang dan rumput setinggi lutut.
“Kalau sekarang ini syukurlah. Semenjak direhab oleh Balai Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jambi, kondisi Wisma Ranggam ini sudah lumayan dibanding dulu. Saya berharap wisma ini suatu saat nanti dijadikan museum,” kata Edy Rasyidi (72) juru pelihara Wisma Ranggam saat disambangi Bangka Pos Group, Minggu (6/6).
Edy menuturkan, sejak dibangun 137 tahun silam, Wisma Ranggam telah beberapa kali mengalami perobahan bentuk maupun penambahan. Terutama teras di bagian depan, dan penambahan bangunan sisi kiri dan kanan bagian belakang wiswa.
Bangunan tambahan di sebelah kiri yang berbentuk kamar-kamar kecil itu kondisinya tak layak pakai lagi. “Bekas bangunan ini mestinya dibongkar karena bukan asli komplek wisma ini. Dulu tidak ada bangunan ini,” imbuh Edy.
Beberapa tahun terakhir perubahan ini banyak mendapat sorotan masyarakat terutama saksi sejarah dan orang-orang yang masih peduli terhadap sejarah kemerdekaan dan aset-aset peninggalannya.
Alhasil, tahun 2003, bangunan ini dipugar kembali oleh Balai Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jambi.
“Meski tidak 100 persen kembali ke bentuk aslinya karena ada bahan-bahan yang diganti, dan hilang, tetapi setidaknya upaya ini memberikan pelajaran berharga bagi anak-anak bangsa bahwa aset bersejarah harus dijaga kelestariannya,” kata Edy yang menempati salah satu ruangan bangunan di belakang Wisma Ranggam.
Penggantian beberapa bahan bangunan yang tak bisa lagi dipakai, menurut Edy bukan pekerjaan mudah. Balai Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jambi mesti mencari bahan yang mirip aslinya dengan membeli dari warga. “Yang ini bahannya beli di Jakarta,” kata Edy menunjuk tempat menadah air hujan yang mengalir dari atap genteng.
Bagian penting dari Wisma Ranggam yang hilang adalah prasasti yang dulu melekat di tugu depan wisma. Prasasti bertuliskan kalimat bersejarah goresan tangan Bung Karno itu, sampai kini tak ditemukan jejaknya.
Sebagai situs sejarah, pemanfataan Wisma Ranggam masih tenggelam dalam ketidakpastian. Upaya penyelematan sebagai aset wisata sejarahnya pun belum sepenuhnya dilakukan.
***
PESANGGRAHAN Muntok adalah nama asli Wisma Ranggam. Kata pesanggrahan diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti tempat peristirahatan atau penginapan.
Perubahan nama menjadi Wisma Ranggam semenjak pengelolaan aset peninggalan Belanda ini dibawah Banka Tin Winning. Sejak itu nama Wisma Ranggam lebih populer di telinga masyarakat Bangka. Bahkan mungkin dunia sekalipun.
Dulu, selain dijadikan tempat menginap, para pejuang itu menggunakan Pesanggrahan Muntok sebagai tempat pertemuan memperjuangkan Bangsa Indonesia lepas dari belenggu penjajah Belanda kala itu.
Bicara soal Pesanggrahan Muntok, tak lepas dari Pesanggrahan Menumbing (sekarang Hotel Jati Menumbing). Bung Karno selama pengasingan di Muntok, naik-turun menggunakan mobil BN-1 dari Pesanggrahan Menumbing di puncak Bukit Menumbing, ke Pesanggrahan Muntok. Di wisma ini pula, tepatnya 7 Mei 1949, para tokoh bangsa itu menggodok konsep perjanjian Roem Royen yang menetapkan pengembalian kekuasaan RI ke Yogyakarta.
Menyusuri kamar-kamar tempat Bung Karno, Bung Hatta dan pejuang kemerdekaan lainnya pernah menginap di sana, terasa seperti bernostalgia ke masa lalu. Namun tak banyak lagi barang-barang peninggalan Bung Karno yang bisa dijumpai di sana.
Di bekas kamar Bung Karno, hanya dua-tiga foto besar Sang Proklamator, ada pula foto-foto kenangan 60 tahun lebih silam saat beberapa bulan masa pengasingan. Sedangkan beberapa fasilitas menginap seperti ranjang dan peralatan lainnya sudah tak ada lagi di ruangan berukuran sekitar empat meter kali lima meter itu.
“Dulu ada ranjang peer tempat Bung Karno tidur di dalam kamar ini, tapi tidak tahu kemana larinya,” imbuh Edy yang sudah sekitar 12 tahun menjaga pesanggrahan itu. Di dalam kamar Bung Karno terdapat pintu menuju ruangan makan di sebelah kiri bangunan wisma. Sejak lama pintu yang berbentuk dua daun itu jarang dibuka.
Melihat bentuk bangunan Wisma Ranggam dan bahan-bahannya, tak lepas dari pengaruh arsitektur bangunan gaya ‘meneer’. Plafonnya yang tinggi sebagaimana motif bangunan zaman dulu, membuat siapa saja terasa nyaman, apalagi sirkulasi udaranya yang lepas.
Selain kamar Bung Karno, ada beberapa kamar lainnya yang di setiap atas palang pintu diletakkan foto-foto tokoh pejuang kemerdekaan. Kamar-kamar ini sekarang berfungsi sebagai tempat menginap bagi pengunjung yang berminat bernostalgia di penginapan bersejarah itu.
Sumber: http://cetak.bangkapos.com/










Comments
RSS feed for comments to this post.