| Article Index |
|---|
| Kepurbakalaan di Pura Taulan Kerobokan, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali |
| page 2 |
| All Pages |
Pura Taulan terletak di Banjar Campuhan Desa Kerobokan Kabupaten Badung Bali, tepatnya lokasi tersebut di belakang Kantor Telkom Jl Raya Kerobokan. Pura ini dahulu merupakan pura subak yang terletak di tengah persawahan, tetapi kondisi sekarang tanah pertanian sebagian besar telah berubah menjadi perumahan atau pemukiman sehingga penyungsungnya (pemelihara) semakin berkurang. Pura ini disungsung oleh masyarakat di tiga banjar yaitu Banjar Campuhan, Banjar Tengah, dan Banjar Gede. Piodalan (upacara memperingati penggunaan-kelahiran pura dalam pertanggalan Bali) pura dilaksanakan setiap hari Tumpek Landep (2 kali dalam setahun) berupa piodalan alit (kecil) dan piodalan agung (besar).
Walaupun Pura Taulan tidak terlalu luas, tetapi pura tersebut ternyata menyimpan peninggalan arkeologi berupa beberapa arca perwujudan (arca leluhur), arca Brahma, dan arca Ganesha. Berdasarkan informasi dari masyarakat, keseluruhan arca ditemukan di sekitar Pura Taulan atau daerah persawahan. Keseluruhan arca dibuat dari batu paras sehingga cepat aus atau rusak. Secara deskripsi, arca tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Arca perwujudan bhatara-bhatari (arca nomor 1)
Arca ini disebut juga sebagai arca dewa-dewi karena terdiri atas dua arca bersikap ekapada dalam satu lapik berupa padma ganda. Arca bhatara berdiri dengan kaki kanan di sebelah kanan sedangkan arca bhatari berdiri dengan kaki kiri di sebelah kiri. Terdapat prabha (hiasan pancaran sinar) dan lidah api di sekitar arca. Pada sandaran arca bagian belakang terdapat candrasangkala yang berbunyi “tan nana rasa pasek tunggal” atau diartikan angka tahun 1260 C (1338 M). Jika mengacu pada angka tahun tersebut, maka Bali dikuasai oleh Raja Astasura Ratna Bhumi Banten sesuai dengan prasasti Langgahan yang berangka tahun 1259 C dan prasasti singkat pada sebuah patung di Pura Penulisan (Kintamani) bertahun 1254 C yang menyebut (Bhatara) Sura Ratna Bhumi.
Arca bhatara memiliki ukuran tinggi arca 64 cm dan lebar 27 cm. Kondisi arca sudah rusak terutama bagian muka telah hilang. Arca bhatari memiliki ukuran tinggi arca 62 cm dan lebar arca 24 cm. Tinggi keseluruhan kedua arca beserta lapiknya yaitu 85 cm. Kedua arca terlihat berwibawa laksana seorang raja dan permaisurinya dengan pakaian kebesarannya. Keduanya menggunakan perhiasan rambut, anting, kalung, udara bhanda(pengikat perut), upawita (selempang ular), gelang kana (gelang lengan) dan gelang biasa. Arca menggunakan kain bersusun tiga dengan motif hias garis vertikal dan memakai kain sampur di samping belakangnya.
b. Arca perwujudan Bhatari (arca nomor 2)
Arca berdiri di atas asana padma tunggal dengan dasar segi empat yang memiliki sandaran dan sikap tangan memegang padma di depan pusar. Tinggi keseluruhannya adalah 53 cm dengan tinggi arca 45 dan lebarnya 23 cm. Arca digambarkan memakai hias mahkota, anting, kalung bentuk roset (bunga padma), gelang kana, gelang biasa, dan udara bhanda. Mahkota berupa kirita mahkota yang berbentuk tingkat susun tiga. Arca menggunakan kain bersusun tiga dengan motif hias garis vertikal dan memakai kain sampur yang dilepas ke belakang. Dada digambarkan prominen sehingga mencerminkan perwujudan seorang bhatari.
c. Arca perwujudan Bhatari (arca nomor 3)
Arca bhatara berdiri di atas asana segi empat dengan bagian atas agak membulat dan pada bagian belakang terdapat sandaran arca. Tinggi keseluruhan adalah 47 cm dengan tinggi arca 42 cm dan lebar 24 cm. Sikap kedua tangan kedepan tanpa memegang sesuatu, posisi tangan kanan di atas tangan kiri tepat di depan pusar. Perhiasan arca sama dengan arca yang lainnya yaitu memakai hias mahkota, anting, kalung bentuk roset, gelang kana, gelang biasa, dan udara bhanda. Pembeda terlihat pada lipatan kainnya, arca ini menggunakan lipatan kain dengan teknik wiru sehingga memberi kesan kaku dan berat.
d. Arca perwujudan bhatari (arca nomor 4)
Sikap arca berdiri dengan sandaran di atas asana berhias dengan bentuk segi empat. Secara detail, arca ini hampir memiliki kemiripan dengan arca nomor 2. Perbedaan terletak pada sikap tangan tanpa memegang bunga padma sehingga sikap tangan mirip arca nomor 3. Lipatan kain menggunakan teknik wiru dengan motif kain vertikal atau garis-garis lurus. Tinggi keseluruhan adalah 53 cm dan lebar arca 23 cm. Dada terlihat prominen sehingga mencirikan seorang bhatari.
e. Arca perwujudan bhatari (arca nomor 5)
Kondisi arca sudah patah dan hilang pada bagian lutut ke bawah. Arca terlihat berdiri dan terdapat sandaran di belakangnya. Kemungkinan pada bagian bawah arca menggunakan asana seperti arca-arca yang lainnya. Perhiasan arca yaitu memakai hias mahkota, anting, kalung, gelang kana, gelang biasa, dan udara bhanda. Arca ini menggunakan lipatan kain dengan teknik wiru. Sikap kedua tangan ke depan memegang sebuah padma di depan pusar. Ukuran arca tersebut adalah tinggi 49 cm dan lebar 22 cm. Buah dada digambarkan prominen sehingga mencerminkan perwujudan seorang bhatari.
f. Arca perwujudan bhatara memegang ayam(arca nomor 6)
Arca perwujudan ini berbeda dengan yang lainnya karena sikap tangan ke depan pusar dengan disertai memegang seekor ayam. Arca ini berdiri di atas asana dengan penampang dasar segi empat dan bagian atas bundar. Pada bagian belakang terdapat praba wali yang bentuknya seperti kipas mengecil ke bawah. Perhiasan arca yaitu memakai hias mahkota, anting, kalung bentuk bulat, gelang kana, gelang biasa, dan udara bhanda. Arca ini menggunakan lipatan kain dengan teknik wiru dengan sampur di kanan kiri bagian belakang dengan simpul segi empat. Tinggi keseluruhan adalah 57 cm dengan tinggi arca 47 dan lebar 20 cm.
g. Arca perwujudan pendeta (arca nomor 7)
Arca ini digambarkan berdiri di atas asana berbentuk padma tunggal dan bagian belakang memiliki sandaran. Ciri yang nampak adalah jenggot yang tebal dan panjang hingga depan dada. Rambut disanggul di atas kepala dan diikat dengan pita. Perhiasan hanya berupa gelang kana dan gelang biasa. Bentuk kain menjuntai ke bawah dengan sampur di kanan kirinya tanpa ada hiasan. Tinggi keseluruhan 50 cm dengan tinggi arca 42 cm dan lebar 28 cm.
h. Arca Brahma
Arca brahma dipahatkan bermuka empat yang masing-masing muka menghadap keempat arah mata angin sehingga disebut juga Catur Mukha. Arca berdiri di atas asana padma tunggal dengan penampang dasar segi empat. Kepala dihiasi dengan mahkota bersusun tiga pada bagian tengahnya dihiasi dengan bunga. Arca ini memakai hiasan anting berbentuk bunga pad telinganya. Hiasan kalung yang dipakai berupa roset dan memakai penyekat perut (udara bhanda). Seperti arca Brahma (Catur Mukha) yang lain, memiliki empat buah tangan yang belakang ditekuk ke atas dan dua buah ditekuk ke depan. Pada arca Brahma ini, kedua tangan depannya dipersatukan di depan pusar dan memegang sekuntum bunga padma. Kain yang dikenaan berkesan tebal berlapis dua dan menutupi bawah hingga pergelangan kaki. Kondisi arca ini sudah agak aus. Tinggi keseluruhan 50 cm dengan tinggi arca 25 cm dan lebar 24 cm.
i. Arca Ganesha
Arca ini sudah aus hanya berupa fragmen bagian kiri badan termasuk tangan dan kaki kirinya. Ciri utama arca ganesha ini adalah hidung belalai yang masih nampak terlihat sebagian walaupun sudah aus. Sikap arca duduk bersila (wirasana) di atas asana padma tunggal. Arca terlihat pendek dengan badan yang gemuk dan perut yang buncit. Motif kain yang digunakan adalah kotak-kotak menutupi pergelangan kaki. Tinggi keseluruhan yang tersisa adalah 33 cm dengan tinggi arca 25 cm dan lebar arca 23 cm.
Jika melihat arca yang disimpan di dalam gedong Pura Taulan Kerobokan maka dapat diketahui bahwa Desa Kerobokan pada jaman dahulu (abad 14 M) sudah merupakan daerah yang sangat diperhitungkan karena Raja Astasura Ratna Bhumi Banten sudah menguasai daerah tersebut dan raja tersebut dibuatkan arca perwujudan sebagai tanda kekuasaannya. Arca-arca tersebut merupakan salah satu bukti nyata tentang kekunaan Desa Kerobokan, tetapi sangat disayangkan bahwa pemeliharaan arca dilakukan secara sederhana dan sekarang kondisinya sudah mulai aus termakan jaman. Perlu adanya peran serta masyarakat dan pemerintah untuk tetap memelihara dan menjaga beberapa arca tersebut sehingga dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Ditulis oleh: Rochtri Agung Bawono.










Comments
Suksme, Om Santhi, Santhi, Santhi, Om
RSS feed for comments to this post.