Arkeologi Indonesia

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
HOME Articles Arkeosinologi Jejak Garis Imajiner Sam Poo Besar

Jejak Garis Imajiner Sam Poo Besar

E-mail Print PDF
Kelenteng Tay Kak Sie di kawasan Pecinan Semarang dan Sam Poo Kong di Gedung Batu Semarang sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial masyarakat Tionghoa Semarang, Jawa Tengah, pada masa lalu. Keduanya tak hanya menjadi pusat kegiatan religi, tetapi juga aktivitas sosial kemasyarakatan. Jejaknya kini masih dapat ditemukan lewat garis imajiner yang terus menghubungkan kedua kelenteng besar itu.

Kelenteng Sam Poo Kong bermula dari legenda dan kepercayaan pemukim Tionghoa bahwa di daerah Simongan, Gedung Batu, penjelajah besar China pada masa Dinasti Ming, Laksamana Cheng Ho atau Sam Poo Tay Djien pernah berlabuh. Kala itu, daerah Simongan berada dekat pantai. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Cheng Ho, warga Tionghoa Semarang membangun pemujaan di salah satu goa yang konon pernah disinggahi Cheng Ho.

Secara tak langsung, daya tarik religi ini membuat jumlah permukiman Tionghoa di sekitar Simongan bertambah. Hingga akhirnya VOC mengelompokkan seluruh pendatang Tionghoa ke dalam pecinan pascapembantaian etnis Tionghoa di Batavia tahun 1740.

Kendati demikian, aktivitas berziarah ke Gedung Batu, yang bentuknya masih altar pemujaan sederhana, masih terus berlangsung meski antara pecinan dan wilayah itu terpaut sekitar 4 kilometer. Kebutuhan akan nilai religi dan berbakti terhadap leluhur (hao) serta kondisi ekonomi warga pecinan yang baik mendorong pembangunan kelenteng. Salah satunya adalah Kelenteng Tay Kak Sie yang dibangun tahun 1771.

Kelenteng untuk memuja Dewi Kwan Im atau Dewi Welas Asih ini bukan yang tertua karena tahun 1753 sudah ada Kelenteng Gang Baru meski ukurannya jauh lebih kecil. Cikal bakal kelenteng ini sudah ada sejak tahun 1746 dengan keberadaan Kwan Im Ting di Balekambang atau Gang Belakang, juga di kawasan pecinan.

Sie Thio Tiong Gie (77), Humas Kelenteng Tay Kak Sie, berkisah, kelenteng ini tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga untuk bersosialisasi. Pada masa lalu, di halaman kelenteng ini kerap dipertunjukkan hiburan, seperti yang kiem, bahkan karawitan dan wayang. Para tokoh dan officier Tionghoa juga kerap berkumpul di situ.

Dalam perkembangannya, lahan kosong di sisi Tay Kak Sie dijadikan Tjie Lam Tjay yang awalnya berfungsi sebagai pusat informasi bagi pendatang baru Tionghoa sekaligus kantor para officier Tionghoa. Mereka mengatur persoalan dagang hingga pemberian hukuman bagi orang- orang Tionghoa.

Kelenteng Tay Kak Sie juga pernah menjadi tempat perlindungan warga pecinan saat pecah Perang Diponegoro. Liem Thian Joe dalam Riwajat Semarang: Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapoesnja Kongkoan tahun 1931 menuturkan, pada tahun 1826 pecinan geger karena merasa bakal diserang. Muncul kabar, Belanda sedang berperang dengan musuh asing, terjadi pemberontakan, dan konon ada ribuan berandal mengamuk di Demak serta bergerak menuju Pecinan.

Mengantisipasi hal itu, kaum laki-laki di pecinan membangun pertahanan dan berjaga. Sementara anak-anak dan kaum perempuan dikumpulkan di Kelenteng Tay Kak Sie. Di sekeliling kelenteng itu ditumpuk kayu bakar. Apabila kalah bertempur, mereka bermaksud membakar kelenteng itu beserta anak-anak dan para istri mereka agar terhindar dari penganiayaan. Namun, hal itu urung terjadi karena pertempuran tak sampai berlangsung di Pecinan Semarang.

Awal mula konektivitas imajiner antara Kelenteng Tay Kak Sie dan Sam Poo Kong tidak terlepas dari peran Johanes, tuan tanah Yahudi di Simongan pada abad ke-19. Ia menguasai tanah Kelenteng Sam Poo Kong dan memungut pajak tinggi bagi orang yang hendak berziarah. Pajak yang dimintanya mencapai 2.000 gulden per tahun, tetapi akhirnya hanya mampu dipenuhi 500 gulden oleh tokoh-tokoh Tionghoa.

Pemajakan ini baru berakhir setelah pada tahun 1879 Oei Tjie Sien, ayah Raja Gula Oei Tiong Ham, membeli hak atas tanah itu.

Sebelum itu, upaya menyiasati kesulitan berziarah dilakukan masyarakat Tionghoa dengan membuat replika patung Sam Poo Tay Djien. ”Patung itu ditaruh di Kelenteng Tay Kak Sie,” tutur arsitek dan pemerhati sejarah Tionghoa Semarang, Widya Wijayanti.

Jalinan garis imajiner itu terus berlanjut hingga kini lewat tradisi mengarak Sam Poo Besar yang diselenggarakan tanggal 29 atau 30 bulan 6 Imlek atau berkisar Juli-Agustus. Mulai pukul 05.00, patung Sam Poo dari Kelenteng Tay Kak Sie ditandu dengan joli menuju Kelenteng Sam Poo Kong. Patung itu disimpan selama beberapa jam. Dalam pemahaman Widya, hal ini semacam upaya untuk mengisi nilai spiritualitas.

Meski begitu, kedua kelenteng itu berkembang dalam alur berbeda. Kelenteng Tay Kak Sie tetap mempertahankan bangunan lamanya dengan beberapa kali renovasi, sedangkan Sam Poo Kong bersolek menjadi bangunan yang mayoritas sudah sangat berbeda dengan kondisi masa lalu. Kedua kelenteng ini juga menjadi simpul pariwisata di Kota Semarang dengan kemolekan yang berbeda.

Sam Poo Kong kini menerapkan kebijakan ketat soal pengunjung. Setiap pengunjung yang masuk kawasan ditarik tiket Rp 3.000 untuk lokal dan Rp 10.000 untuk turis asing. Sementara bila hendak masuk ke dalam bangunan, turis asing dikenai Rp 30.000 dan lokal Rp 10.000.



Antony Lee
Sumber: http://cetak.kompas.com/
 

Add comment


Security code
Refresh

Random Image

Who's Online

We have 35 guests online

Comments

28-08-2014By #faqih
Candi Agung Peninggalan M...
qta rakyat pedesaan qta haus akan sejarah cagar budaya candi agung. MPPMT terjunlah langsung ksni ? ... readmore
25-08-2014By margani
Situs 1.400 Tahun Ditemuk...
Di kecamatan Sumberjaya, Kebon Tebu dan Gedung Surian, Lampung Barat banyak ditemukan dolmen dan men... readmore
10-08-2014By
09-08-2014By
Benteng Kuto Besak: Simbo...
saya adalah mahasiswa sejarah asal Aceh, maaf saya boleh usul situs di Aceh di angkat juga dong...ka... readmore
02-08-2014By
Misteri Tokoh Arya Asvend...
1. Temuan Ring of Fire (gunung2 berapi) membuktikan asal muasal kehidupan berasal. pindahnya bangsa2... readmore
10-07-2014By
Bisnis Uang Lama Menguntu...
maaf admin mau numpang share saya ada uang brazil 10000 ada 3 jika minat PM atau ke no 081703612241 ... readmore
22-06-2014By
Panja RUU Budaya Cari Mas...
Tata nilai budaya yang ada di jogjakarta cukup banyak versinya, salah satunya adalah perikehidupan p... readmore
21-06-2014By
Ditemukan Situs Megalit d...
saya he dak meluruskan sejarah sites megalith diatas saita gAri Tuada ho,yang be nar adalah saitaa g... readmore
10-06-2014By
Logo Surabaya Salah Kapra...
Ini kan cuman masalah simbol atau maskot. sudah banyak sbenarnya yg tau kalau arti sebenarnya adalah... readmore
05-06-2014By
Bisnis Uang Lama Menguntu...
Saya punya uang kertas thn.1946 nilai 10 sen zaman belanda readmore
RSS