Semarang, - Bangunan bersejarah Pasar Bulu kini hancur sudah, setelah bangunan induk bagian depan yang memiliki pilar-pilar berbentuk cendawan secara sistematis dihancurkan dan dirobohkan oleh para pekerja, Rabu (10/5/2012). Perobohan pilar berbentuk cendawan sudah berlangsung dua hari terakhir ini, tanpa menyisakan penanda yang menunjukkan bangunan khas Pasar Bulu.
"Pilar-pilar ini memang dirobohkan terakhir, setelah atap sebagai pondasi pilar sudah terbuka dan hancur," ujar sejumlah pekerja pihak pemenang lelang pembongkaran pasar Bulu senilai Rp 1,3 miliar.
Pengamat arsitektur perkotaan Fakultas Teknik Unika Soegijapranata Semarang, Kriswandono, mengemukakan, bangunan induk Pasar Bulu yang pilarnya sudah hancur terutama di bagian utara menghadap ke jalan protokol Jalan Soegijapranata, Semarang.
"Perobohan pilar itu sangat disesalkan. Ini benar-benar penghancuran bangunan bersejarah, yang lokasinya justru merupakan kawasan cagar budaya Bunderan Tugu Muda, Semarang," kata Kriswandono.
Pilar-pilar cendawan itu kini roboh membisu di antara puing-puing bangunan pasar. Setelah pilar itu roboh, pekerja langsung memotong pilar yang panjangnya lebih empat meter menjadi puing-puing pecahan tembok.
Anggota Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang Djoko Setijowarno mengatakan, penghancuran bangunan induk Pasar Bulu lebih mengerikan dibanding pembongkaran eks pabrik es Saripetojo di Solo. Namun antara pasar Bulu dan pabrik es Sari Petojo memiliki kesamaan bahwa pembongkaran itu juga tidak lepas dari pembiaran oleh kepala daerah di Jateng yang tidak memiliki visi mengenai pelestarian heritage.
Sebagai anggota DP2K, kata Djoko, pihaknya gagal dalam memberikan masukan ke Pemkot untuk tetap mem pertahankan ciiri khas bangunan pasar Bulu. Setelah semuanya dibongkar begitu, DP2K memang perlu instrospeksi apakah lembaga ini tetap eksis untuk mengawal pembangunan di kota Semarang.
"Tentunya semua berpulang pada hati nurani anggota DP2K, bisa saja tetap jadi anggota tapi perannya tidak bermanfaat, lalu untuk apa? Tidak dihargai sama sekali," tuturnya.
Tokoh masyarakat di Kota Semarang, Maulana Farhani, menyatakan, kenekadan pihak kontraktor yang memenangkan lelang pembongkaran menghancurkan Pasar Bulu semakin menyakinkan dugaan awal. "Untuk menjaga bangunan heritage memang dibutuhkan pemimpin yang punya integritas dan tidak korupsi," kata Maulana.
Dugaan awal, kemenangan Wali Kota Semarang Soemarmo HS dalam pilkada 2010 ternyata berdampak pada realisasi kompensasi politik. Kompensasi dari sejumlah pihak yang rela membiayai pemenangan dalam pilkada.
Informasi yang berkembang, masih ada Pasar Kanjengan di Johar dan sarana olahraga Tri Lomba Juang di Mugas yang telah diserahkan investor sebagai kompensasi politik pilkada. Nilai bangunan itu telah ditaksir mencapai Rp 8 miliar.
Sumber: kompas.com










bukti bahwa nenek moyang bangsa kita memiliki peradaban yang luhur,untuk pemeliharaan dan perawatan ... readmore