Arkeologi Indonesia

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
HOME Articles Berita Arkeologi BP3 Teliti Batu Penemuan di Boyolali

BP3 Teliti Batu Penemuan di Boyolali

E-mail Print PDF

Boyolali, - Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah telah mengangkat batu besar yang diduga situs benda cagar budaya di Watutelenan, Pulisen, Kecamatan Boyolali Kota, untuk dilakukan penelitian.

"Penemuan batu besar diduga situs purbakala itu diangkat untuk dipindahkan ke Rumah Arca Taman Kridanggo Boyolali, untuk penelitian lebih lanjut," kata staf Bidang Perlindungan BP3 Jateng Harun Ar Rosyid di Boyolali, Selasa.

Menurut dia, pengangkatan batu penemuan tersebut dilakukan sebagai bentuk penyelamatan benda purbakala. Batu itu, akan diamankan ke rumah arca dan kemudian dilakukan penelitian.

Batu yang ditemukan tersebut diduga merupakan calon ambang pintu candi. Pihaknya juga akan melakukan penelitian batu yang ditemukan di sejumlah lokasi lainnya seperti di Kecamatan Selo lereng Merapi.

Menurut dia, proses pengangkatan batu cukup sulit, meski pihaknya telah mendatangkan alat derek berbentuk tripod.

Namun, batu yang diduga memiliki nilai sejarah tersebut tidak dapat bergeser dari tempatnya. "Alat derek untuk mengangkat batu itu, justru rantainya macet saat ditarik," katanya.

Menurut dia, batu tersebut diperkirakan memiliki berat lebih dari kapasitas derek yang maksimal yakni beban seberat tiga ton, sehingga tidak mampu memindahkan dari tempatnya. "Kami tetap berusaha agar batu segera terangkat dan dipindahkan ke rumah arca untuk diteliti," katanya.

Ia menjelaskan, soal kompensasi pemilik lahan ditemukannya batu tersebut, pihaknya belum dapat memastikan. Karena, hal itu, masih perlu dibahas dalam rapat internal BP3 Jateng.

Menurut Suratno (55) pemilik lahan ditemukan batu bersejarah itu, bahwa pihaknya berharap kompensasi terkait dipindahkan benda diduga masuk cagar budaya.

Karena, kata dia, dipindahkan batu tersebut menyebabkan tanamannya di sekitar lokasi ditemukan benda cagar budaya itu, turut rusak. Pohon pepaya dan rumput gajah untuk pakan ternak banyak yang mati akibat terinjak-injak oleh pengunjung. "Saya tidak dapat mengolah lahan lagi, setelah ada penemuan batu itu," katanya.

 

 

Sumber: kompas.com
 

Add comment


Security code
Refresh

Random Image

Who's Online

We have 15 guests online

Comments

08-05-2013By W.Prayitno
Peninggalan Megalitik Itu
bukti bahwa nenek moyang bangsa kita memiliki peradaban yang luhur,untuk pemeliharaan dan perawatan ... readmore
24-04-2013By motheinnaneli
Menelusuri Makna Prasasti...
Good design arkeologi.web.id. Offtopic: Can Barcelona beat Bayern Munich in the semi? msi health ins... readmore
16-04-2013By admin
Museum Ronggowarsito Sema...
Untuk Mbak Anita. Di Museum Ronggowasito belum ada pajangan tentang Ceng Ho atau Sam Po Kong. Sangat... readmore
15-04-2013By annita
Museum Ronggowarsito Sema...
Assalamualaikum wr.wb Mas Rochtri saya mau nanya apakah di dalam koleksi yang terdapat di museum ini... readmore
10-04-2013By Phai Masiruru T.Puse
Makam Penyebar Islam di P...
bagi PEMKOT PALU tolong di perhatikan Makam Beliau yang menyebarkan islam di kota palu readmore
10-04-2013By andi wawan
Pemeliharaan dan Pelestar...
hingga sekarang ini blum ada uu yg mengatur tentang letak bangunan diareal lingkup cagar budaya itu ... readmore
03-04-2013By nio
Logo Surabaya Salah Kapra...
wah iki informasi sing bermanfaat. bangga rek, dadi arek suroboyo!! readmore
03-04-2013By prasdiyanto
Mengintip Bangunan Makam ...
YTH Bapak Sunarto Nusi Di Tilamuta Sejarah Boalemo merupakan kajian sejarah yang sangat di perlukan ... readmore
01-04-2013By Uwong
Menelusuri Makna Prasasti...
Minanga = daerahnya orang Minang Jaman dulu = Sumatra Timur, orang minang ngungsi ke Sumatra barat k... readmore
29-03-2013By imunxinter
Situ dan Candi di Kampung...
bila allah mengizinkan ingin rasa'x hati dan mata ini melihat ke masalalu yg penuh perjuangan tentan... readmore
RSS