Arkeologi Indonesia

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
HOME Articles Berita Arkeologi Fosil Ungkap Senggama Kura-kura yang Terputus

Fosil Ungkap Senggama Kura-kura yang Terputus

E-mail Print PDF

fosil_kura-kura_Allaeochelys_crassesculpta_yang_ditemukan_dalam_posisi_kawinBerlin, - Palaentolog asal Jerman berhasil menemukan fosil dari 9 pasang kura-kura yang mati kala melakukan perkawinan atau senggama puluhan juta tahun lalu.

Ilmuwan mengungkapkan, fosil ini menjadi fosil vertebrata (hewan bertulang belakang) pertama yang ditemukan dalam posisi tengah melakukan hubungan seksual.

"Banyak hewan lahir dan mati setiap tahunnya dan banyak yang kemudian terabadikan menjadi fosil karena kondisi tertentu, tapi tak ada alasan untuk menjadi fosil saat Anda melakukan perkawinan," ungkap Walter Joyce, palaentolog yang terlibat penelitian ini.

"Peluang pasangan mati secara bersamaan sangat klecil dan peluang bagi keduanya untuk sama-sama terabadikan menjadi fosil lebih kecil lagi," tambah Joyce seperti dikutip AFP, Rabu (20/6/2012) hari ini.

Fosil kura-kura kawin ini ditemukan di Messel Pit, Jerman, sebuah lokasi yang berada di antara Darmstadt dan Frankfurt. Wilayah ini dahulu kala adalah sebuah danau vulkanik purba yang memungkinkan jenis kura-kura hidup.

Menurut ilmuwan, fosil yang ditemukan berusia 47 juta tahun. Sementara, jenis kura-kura yang ditemukan adalah Allaeochelys crassesculpta. Kini, jenis itu sudah punah.

Mengurai penyebab kematian, pasangan kura-kura tersebut mati karena tenggelam, masuk ke lapisan air danau yang beracun. Kulit kura-kura tersebut menyerap substansi kimia beracun yang ada di danau vulkanik tempatnya hidup.

"Tak diragukan lagi bahwa danau ini membunuh banyak hewan yang lengah," ungkap Joyce yang merupakan ilmuwan dari University of Tuebingen.

Publikasi Joyce di jurnal Royal Society Journal Biology Letters mengungkap bahwa hewan tak biasa meninggal dalam aktivitas keseharian seperti makan dan kawin. Tapi, Joyce juga mengungkap bahwa kura-kura air tawar biasa tak berdaya dalam posisi kawin.

"Jika posisi menunggang terjadi di perairan terbuka, pasangan yang akan kawin kemungkinan besar akan tenggelam di kedalaman tertentu," demikian ungkap Joyce dan rekannya dalam publikasi.

Menurutnya, alasan inilah yang menjelaskan banyaknya pasangan kura-kura yang tenggelam di jebakan kematian yang sama.

 

 

Sumber: kompas.com
 

Add comment


Security code
Refresh

Random Image

Who's Online

We have 40 guests online

Comments

19-05-2013By thoms
Bisnis Uang Lama Menguntu...
Saya punya koin thn 45 dan uang kertas gambar soekarno.. Anda berminat silahkan hub email saya..khus... readmore
08-05-2013By
Peninggalan Megalitik Itu
bukti bahwa nenek moyang bangsa kita memiliki peradaban yang luhur,untuk pemeliharaan dan perawatan ... readmore
24-04-2013By
Menelusuri Makna Prasasti...
Good design arkeologi.web.id. Offtopic: Can Barcelona beat Bayern Munich in the semi? msi health ins... readmore
16-04-2013By
Museum Ronggowarsito Sema...
Untuk Mbak Anita. Di Museum Ronggowasito belum ada pajangan tentang Ceng Ho atau Sam Po Kong. Sangat... readmore
15-04-2013By
Museum Ronggowarsito Sema...
Assalamualaikum wr.wb Mas Rochtri saya mau nanya apakah di dalam koleksi yang terdapat di museum ini... readmore
10-04-2013By
Makam Penyebar Islam di P...
bagi PEMKOT PALU tolong di perhatikan Makam Beliau yang menyebarkan islam di kota palu readmore
10-04-2013By
Pemeliharaan dan Pelestar...
hingga sekarang ini blum ada uu yg mengatur tentang letak bangunan diareal lingkup cagar budaya itu ... readmore
03-04-2013By
Logo Surabaya Salah Kapra...
wah iki informasi sing bermanfaat. bangga rek, dadi arek suroboyo!! readmore
03-04-2013By
Mengintip Bangunan Makam ...
YTH Bapak Sunarto Nusi Di Tilamuta Sejarah Boalemo merupakan kajian sejarah yang sangat di perlukan ... readmore
01-04-2013By
Menelusuri Makna Prasasti...
Minanga = daerahnya orang Minang Jaman dulu = Sumatra Timur, orang minang ngungsi ke Sumatra barat k... readmore
RSS