Arkeologi Indonesia

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
HOME Articles Epigrafi & Manuskrip Menelusuri Makna Prasasti Kedukan Bukit (Sriwijaya) - page 3

Menelusuri Makna Prasasti Kedukan Bukit (Sriwijaya) - page 3

E-mail Print PDF
Article Index
Menelusuri Makna Prasasti Kedukan Bukit (Sriwijaya)
page 2
page 3
All Pages
“Marwuat Wanua”

Banyak ahli sejarah yang mengartikan ungkapan “marwuat wanua” pada prasasti Kedukan Bukit dengan “membuat kota”, sehingga timbul anggapan bahwa pada tahun 682 Dapunta Hyang datang ke Palembang untuk membuat kota Sriwijaya. Padahal pada tahun 671 I-tsing telah singgah di Sriwijaya. Menurut Hsin-T’ang-shu (Sejarah Baru Dinasti Tang), Kerajaan Sriwijaya telah mengirimkan utusan ke Cina pada periode 670-673. Lihat: Paul Pelliot, “Deux Itineraires de Chine en Inde a la Fin du VIIIe Siecle”, BEFEO, tome 4, 1904, h. 334. Hal ini berarti bahwa peristiwa “marwuat wanua” tahun 682 itu bukanlah menyatakan pembentukan negeri Sriwijaya.

Kata wanua memiliki arti ganda: kota (negeri) dan rumah (bangunan). Dalam beberapa bahasa daerah di Sumatera bagian selatan, sampai sekarang kata wanua berarti “rumah”, sering disingkat menjadi nua atau nuo. Prof. George Coedes, dalam karangannya Les Inscriptions Malaises de Crivijaya tahun 1930, memberikan arti: wanua = pays, royaume, forteresse (kota, kerajaan, rumah pertahanan). Lihat Coedes, 1930, h. 77. Ketika Van Ronkel mula-mula menerjemahkan prasasti Kedukan Bukit, dia mengartikan wanua dengan fortress (rumah pertahanan). Lihat Van Ronkel, hh. 20-21.

Jadi kalimat “marwuat wanua” dapat berarti "membuat kota" atau "membuat rumah". Jika kita artikan membuat kota, kita terbentur pada kenyataan bahwa kota Sriwijaya sudah ada pada tahun 671. Maka satu-satunya pilihan adalah mengartikannya membuat rumah. Pada pecahan prasasti nomor D.161 yang ditemukan di Palembang, yang isinya serupa dengan isi prasasti Kedukan Bukit, tertulis: ... wihara ini, di wanua ini (J.G. de Casparis, 1956, hh. 14-15). Jelaslah bahwa wanua (rumah) yang dibuat Dapunta Hyang tahun 682 adalah sebuah wihara (rumah peribadatan).

Persoalan Minanga

Prasasti Kedukan Bukit mengatakan pada tanggal 7 Jesta 604 (19 Mei 682) Dapunta Hyang berangkat (marlapas) dari Minanga. Oleh karena dia meninggalkan Minanga dengan tentara yang bersukacita, mudahlah disimpulkan bahwa Minanga merupakan daerah yang baru saja ditaklukkan Sriwijaya. Mereka berangkat dari Minanga dengan sukacita—karena baru menang perang—untuk kembali ke ibukota di Palembang.

Di manakah letak Minanga? Anggapan para penyusun Sejarah Nasional Indonesia Jilid II bahwa Minanga terletak di pertemuan sungai Kampar Kiri dan Kampar Kanan bersumber pada pendapat Prof. Dr. R.M.Ng. Purbatjaraka dalam Riwajat Indonesia, I, Jajasan Pembangunan, Djakarta, 1952, h. 35. Alasannya, "tamwan" berasal dari kata "temu", lalu Purbatjaraka menafsirkannya “daerah tempat sungai bertemu”. Mengapa harus di Kampar, Purbatjaraka tidak memberikan alasan. Pendapat ini dibantah dengan jitu oleh Prof. Dr. J.G. de Casparis yang membuktikan bahwa"tamwan" tidak ada hubungannya dengan "temu", sebab kata yang terakhir ini sudah dipakai pada zaman Sriwijaya. Dalam prasasti Talang Tuwo terdapat enam buah kata "temu" (J.G. de Casparis, 1956, h. 13). Penelitian para ahli bahasa menyatakan bahwa kata "tamwan" pada prasasti Kedukan Bukit bukanlah nama tempat, melainkan kata biasa yang sekarang menjadi "tambahan", sebagaimana kata wulan, sariwu, wanyak dan marwuat menjadi bulan, seribu, banyak dan membuat.

Pendapat Dr. Buchari yang mengatakan Minanga adalah Batang Kuantan (minanga = muara = kuala = kuantan) juga perlu diragukan. Kata "minanga" tidak ada hubungannya dengan "muara", sebab kata "muara" juga sudah dipakai pada zaman Sriwijaya. Pada pecahan prasasti A baris ke-16 yang ditemukan di Palembang terdapat kata "muara". Lihat: J.G. de Casparis, 1956, h. 5. Buchari sendiri mengakui bahwa di Batang Kuantan belum ditemukan peninggalan arkeologis yang menunjang pendapatnya, dengan mengatakan (1979, h. 28), “Memang di Batang Kuantan belum ditemukan peninggalan arkeologis. Tapi kan di sana belum diadakan penggalian? Siapa tahu nanti ada kejutan di sana.”

Untuk menetapkan daerah yang cocok bagi lokasi Minanga, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi:
(1) Daerah tersebut namanya mirip dengan Minanga.
(2) Daerah itu menurut prasasti Kedukan Bukit berjarak kira-kira sebulan pelayaran dari Palembang.
(3) Daerah itu lokasinya strategis mengingat ekspansi Sriwijaya bertujuan menguasai lalu lintas pelayaran dan perdagangan.
(4) Pada daerah itu terdapat peninggalan arkeologis yang membuktikan bahwa daerah itu pernah berperan dalam sejarah.

Kiranya daerah yang cocok bagi pelokasian Minanga adalah Binanga yang terletak di tepi Sungai Barumun, Sumatera Timur, seperti pendapat Dr. Slametmulyana. Daerah Binanga memenuhi persyaratan ditinjau dari segala aspek:
1. Pada abad ketujuh Binanga masih terletak di tepi laut.
2. Tempat itu ideal untuk mengawasi lalu lintas Selat Malaka.
3. Tempat itu dapat digunakan batu loncatan oleh armada Sriwijaya untuk menyerang Semenanjung. Seperti dikatakan I-tsing, pada tahun 685 (tiga tahun setelah penaklukan Minanga, 682) Kedah sudah ditaklukkan Sriwijaya.
4. Di daerah Padang Lawas, dekat Binanga, sampai kini terdapat biaro (wihara) Bahal, Sitopayan dan Sipamutung. Ini berarti Binanga pernah berperan dalam sejarah.
5. Perubahan nama Minanga menjadi Binanga sangat mungkin terjadi, sebab fonem m dan b sama-sama huruf bibir (bilabial). Kata mawa dan marlapas pada prasasti Kedukan Bukit kini berubah menjadi bawa dan berlepas (berangkat).

Kesimpulan:

Berdasarkan seluruh uraian di atas, isi prasasti Kedukan Bukit dapat ditafsirkan sebagai berikut:

Pada tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682) raja Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang naik perahu dari suatu tempat untuk bergabung dengan tentaranya yang baru saja menaklukkan Minanga (Binanga). Lalu pada tanggal 7 Jesta (19 Mei) Dapunta Hyang memimpin laskarnya meninggalkan Minanga untuk pulang ke ibukota. Mereka bersukacita karena pulang dengan membawa kemenangan. Mereka mendarat di Muka Upang, sebelah timur Palembang, lalu menuju ibukota. Kemudian pada tanggal 5 Asada (16 Juni) Dapunta Hyang menitahkan pembuatan sebuah wanua (bangunan) berupa wihara di ibukota sebagai manifestasi rasa syukur dan gembira.

Boleh dipastikan bahwa pembuatan Taman Sriksetra pada tahun 606 Saka (684 Masehi), sebagaimana tercantum pada prasasti Talang Tuwo, masih merupakan rangkaian manifestasi rasa gembira akibat suksesnya siddhayatra (ekspedisi militer) dua tahun sebelumnya.

Oleh karena isi prasasti Kedukan Bukit (juga prasasti Talang Tuwo) menceritakan peristiwa penting dalam perkembangan Kerajaan Sriwijaya, sudah sewajarnya prasasti itu ditempatkan di ibukota kerajaan. Dengan demikian, prasasti Kedukan Bukit memperkuat bukti bahwa pusat pemerintahan Sriwijaya berlokasi di Palembang.

Ditulis oleh: Nia Kurnia Sholihat Irfan dalam http://irfananshory.blogspot.com
Penulis adalah alumnus Jurusan Sejarah FKIS IKIP (sekarang FP-IPS UPI) Bandung tahun 1980 dengan skripsi "Kerajaan Sriwijaya" yang kemudian diterbitkan oleh Penerbit Girimukti Pasaka, Jakarta, 1983.
photo courtnesy: http://id.wikipedia.org/

 

Comments  

 
#30 2014-01-11 00:41
minanga tamwan atau minanga kabwa yg arti nya negeri minang... yang berada di desa mahat dan balubuih di kabupaten 50 kota sumatera barat.. Daerah ini tercantum dalam Prasasti Kedukan Bukit sebagai daerah asal Dapunta Hyang Sri Jayanasa, pendiri Kerajaan Sriwijaya. Di pelosok desa Mahat, kecamatan Suliki Gunung Mas, banyak ditemukan peninggalan kebudayaan megalitikum. Di desa ini dapat disaksikan pemandangan kumpulan batu-batu menhir dari abad 6 dan 7
 
 
#29 2013-10-21 06:52
MINANGA adalah nama Desa Tua di dekat Kota Martapura perbatasan provinsi Lampung dan Sumsel. Sampai sekarang Desa itu masih ada. Mereka berbahasa Komering. Menurut saya mungkin saja Dapunta Hyang berlepas dari Desa Minanga ini menelusuri Sungai Komering terus ke Sungai Musi.
 
 
#28 2013-09-02 05:51
ini yang komen banyak kali lah bernada kesukuan ga mutu. Jauhkan kesukuan lihat secara objektif, memang Binanga yang paling tepat, kalau pak Slamet memilih Binanga bukan berdasar kesukuan memang pak Slamet orang Binanga (Tapsel/Mandailing) ? bukan kan...
 
 
#27 2013-04-01 03:22
Minanga = daerahnya orang Minang Jaman dulu = Sumatra Timur, orang minang ngungsi ke Sumatra barat karena kalah perang lawan Sriwijaya
 
 
#26 2013-03-10 15:11
maaf komen saya terbalik ditampilkan situs ini, tolong dibaca mulai dari komen no 22 ya.
 
 
#25 2013-03-10 15:11
Disebut naga krn orang Minang di era Sriwijaya adalah penakluk Nusantara dan Asia tenggara, sehingga mereka disimbolkan dg Naga yang menjadi simbolisasi hewan dg kekuatan tertinggi dlm mitologi hindu buddha. Para arkeolog dan filologi jawa tidak mau ini terungkap agar dominasi orang minang tetap bisa dihilangkan dan dikaburkan.
 
 
#24 2013-03-10 15:10
harap diketahui, pasukan pagaruyung menaklukkan pasukan majapahit di padang sibusuak, dan sehingga tempat peperangan besar itu dinamakan padang sibusuak krn banyaknya bangkai orang jawa majapahit di sana.
 
 
#23 2013-03-10 15:09
coba anda baca kitab2 kuno di kerajaan Bali, sriwijaya itu disebut Minangakabwa Sriwijaya. Minangkabwa artinya adalah negeri para keturunan naga. Mina itu dalam sanskrit bermakna naga, nga itu konjungsi yg menghubungkan dg kabwa yg berarti negeri. sedangkan kata Minang sebagai leksikon yg berdiri sendiri justru bermakna keturunan naga.
 
 
#22 2013-03-10 15:06
Dr. Slametmulyana sepertinya tidak ingin dominasi Minangkabau sebagai pendiri Sriwijaya terungkap, sengaja diputarbalikann ya terjemahan prasasti kedukan bukit, padahal sudah jelas bahwa dapunta Hyang itu berangkat dari Minangakabwa untuk menaklukkan palembang. Jadi Minangakabwa itu bukanlah daerah taklukan Sriwijaya, justru Minangakbawa itulah daerah asal pendiri sriwijaya dan penakluk palembang, dan kemudian menaklukkan Jawa.
 
 
#21 2013-03-09 19:46
- kalaupun minanga di kampar, Dapunta Hyang melakukan perjalanan siddhayatra dan menaklukan kawasan tempat ditemukannya prasasti ini (Palembang, sungai Musi), lalu gerakan penaklukan terus berlanjut ke Malayu Jambi ..jambi di taklukan 686 M
-bila minanga di kampar untuk apa sriwijaya memindahkan ibukota jauh ke selatan(palemba ng) padahal daerah itu sudah strategis untuk jadi bandar dan ibukota
- sebuah kerajaan tidak akan memindahkan ibukotanya jauh dari kampung halaman
 

Add comment


Security code
Refresh

Random Image

Who's Online

We have 60 guests online

Comments

23-10-2014By kang tomo
Bisnis Uang Lama Menguntu...
Saat ini saya ada uang kuno seri budaya,sukarno, sudirman,pekerj a lengkap Seri hewan ada gajah,maca... readmore
21-10-2014By Joseph Tanuwijaya
Bisnis Uang Lama Menguntu...
Saya punya uang koin Rp.2000,00 seri hewan harimau sumatera tahun 1974.... minat email langsung ke s... readmore
17-10-2014By ally syarif
Melihat Kondisi Kawasan B...
lama kelamaan desa hijauku akan hilan readmore
15-10-2014By Yulianti Arafah
Kejayaan Maritim Nusantar...
Selamat Siang, Nama sy Yulianti, Apakah ada Buku mengenai : "Majapahit Peradaban Maritim dg sub judu... readmore
15-10-2014By JEPRILUMBU
Taman Cinta Sultan Aceh
ARTIKELNYA. SANGAT MEMBANTU PAK.. readmore
10-10-2014By mugirahayu batik
Penetapan Batik sebagai W...
Penetapan batik oleh UNESCO adalah langkah awal budaya nusantara jadi masterpiece. Ngomongin batik, ... readmore
09-10-2014By Musri
Temuan Gua Penguburan di ...
Temuan kerangka paruh burung raksasa, ternyata sama dengan bangkai paus di Selandia Baru yang terlan... readmore
06-10-2014By asfien
Logo Surabaya Salah Kapra...
Jeneng suroboyo iku asal usul e teko perang antara pasukane raden wijaya amvk pasukan mongol seng di... readmore
02-10-2014By igo
Sebanyak 177 Benteng di J...
ada daftar tabel Nama Nama bente di pulau jawa ga....? readmore
27-09-2014By harry m sastrakusuma
Kekayaan Ragam Batik Sund...
Terima kasih….kang sepanjang sejarah batik yang ada, insayaallah kita dan generasi muda (pemuda/maha... readmore
RSS