Suatu pagi yang cerah di Kota Ubud, Bali, Pedanda Istri Ida Manuaba memasang beberapa canang berisi sesaji di atas altar.
Pada altar terlihat sepasang barong berwujud pria Bali berkulit coklat gelap dan bermata besar yang berdampingan dengan seorang perempuan berkulit kuning langsat dan bermata sipit. Itulah Barong Landung, yakni sosok perkawinan campur Bali-Tionghoa yang terjadi pada abad XII yang hingga kini dihormati masyarakat Bali.
”China dan Bali tidak boleh dipisah. Banyak percampuran budaya yang didapat dari daratan Tiongkok ke Bali yang sudah menjadi bagian dari kebudayaan setempat,” ujar Ida Pedanda Manuaba (86), sang tuan rumah, yang ditemui akhir Januari 2011.
Barong Landung tersebut di masa silam sering dipentaskan untuk mengusir pengaruh jahat dan membawa kedamaian serta kesejahteraan bagi warga. Barong Landung adalah potret persatuan dua budaya di Pulau Dewata yang melebur menjadi bagian keindahan Bali.
Made Sidia (43), dalang dan dosen di ISI Denpasar, menjelaskan, penghormatan terhadap sosok Dalem Bali Kang dan permaisuri Kang Tjin We merupakan wujud pengajaran toleransi terhadap masyarakat Bali masa kini. Made Sidia mengemas kisah cinta dua dunia itu dalam sendratari yang dipentaskan sejak dua bulan terakhir di Taman Safari Bali. Riset untuk menafsirkan pertemuan dua budaya itu dilakukan selama delapan bulan dan tidak melupakan serangkaian upacara untuk meminta restu leluhur Bali dan Tionghoa.
Kisah pernikahan dua dunia itu memang unik. Raja Jaya Pangus (Dalem Bali Kang) yang memerintah pada abad XII di Panarajon atau Penulisan di Bali kedatangan seorang Empu Tionghoa bermarga Liem. Dalam buku keterangan Pura Ulun Danu Batur (Pura Batur) di Kintamani tentang Ida Ratu Gede Ngurah Subandar, atau Kongco Cong Po Kong, disebutkan Empu Liem menjadi tangan kanan raja yang mengajarkan strategi berperang hingga memerintah dengan prinsip Asta Brata.
Salah satu peninggalan strategi perang itu diabadikan dalam tarian: Baris Dadap, Baris Tumbak, Baris Perisi atau Baris Tamiang, Baris Bajra, hingga Baris China. Tari Baris adalah tari kewiraan.
Saat bekerja bagi Raja Jaya Pangus, Empu Liem dibantu seorang dara cantik bernama Kang Tjin We yang konon cantik dan lemah lembut seperti Dewi Kwan Im (dalam ajaran Hindu disebut sebagai Dewi Sri/Dewi Kemakmuran). Sang Raja akhirnya tertarik kepada Kang Tjin We yang beragama Buddha dan bermaksud menikahinya.
Seorang pendamping kepercayaan Raja Jaya Pangus, Empu Siwa Gandu, melarang rencana pernikahan tersebut. Menurut Empu Siwa Gandu, pernikahan tersebut tidak akan diberi keturunan. Konon, ada kepercayaan awu, yakni garis keturunan Tionghoa lebih tua dari garis keturunan Bali.
Mangku Chandra alias Lie Tian An—pria peranakan campuran Tionghoa-Bali yang menjadi pemangku klenteng di Pura Batur—menjelaskan, karena tidak memiliki keturunan, Raja Jaya Pangus bersemedi di sekitar Danau Batur. Saat bersemedi selama tiga tahun itu, beliau menikahi seorang Dewi Danu dan memiliki seorang anak.
”Tidak dinyana, Putri Kang Tjin We yang kesepian menyusul Raja Jaya Pangus ke tempat bertapa. Kang Tjin We terkejut melihat adanya Dewi Danu dan seorang anak. Sebaliknya, Dewi Danu merasa dibohongi dan murka terhadap Raja Jaya Pangus dan Kang Tjin We. Dewi Danu mengeluarkan kutukan yang memusnahkan Raja Jaya Pangus dan Kang Tjin We. Namun, setelah menyesali kemarahan sesaat itu, Dewi Danu menciptakan sepasang Barong Landung dan meminta masyarakat merawat serta menghormati Barong Landung,” kata Mangku Chandra yang berkulit sawo matang dan bermata lebar itu.
Sejak saat itu, penghormatan terhadap Raja Jaya Pangus (Dalem Balingkang) dan Kang Tjin We dipusatkan di Pura Ulundanu. Penggunaan dupa, uang kepeng Tionghoa, hingga budidaya Lychee dikenal di daerah dataran tinggi sekitar Gunung Batur itu. Kawasan itu juga menjadi pusat hunian awal warga Tionghoa di Bali.
Ida Bagus Putera Siwagatha, putra dari Ida Pedanda Manuaba, menjelaskan, sejumlah kampung di Kintamani memiliki toponimi yang berasal dari bahasa Mandarin. ”Contohnya Desa Pingan sebetulnya berasal dari kata Ping An yang berarti selamat. Desa Songan berasal dari kata Song An, Desa Siakin berasal dari kata Sia In, Desa Paketan berasal dari kata Paket An. Pemukim awal Tionghoa juga mendapat lahan bertani di Payangan dengan memberikan bibit lychee kepada salah seorang Raja Bali. Tradisi ngelawang, yakni mengelilingkan Barong Bali ke pintu-pintu rumah, juga mirip dengan tradisi Barongsai Tionghoa masuk ke rumah dan toko-toko,” kata Siwagatha.
Siwagatha menambahkan, pelbagai jenis ukiran untuk mengiasi rumah dan perabot Bali juga banyak menerima dan menyerap pengaruh Tiongkok. Beragam pengaruh itu kini sudah dikenal luas sebagai budaya asli Pulau Bali.
Bahkan, para pedagang Bali meyakini Kongco Cong Po Kong atau Ida Ratu Gede Ngurah Subandar di Kintamani adalah pelindung yang memberi berkah atas perniagaan mereka. Demikian pula pasangan Dewa-Dewi yang disebut Rambut Sedana yang dipercaya memberi berkah bagi keluarga, disusun dari uang kepeng Tionghoa.
Kini, beberapa hari menjelang perayaan Sincia (Tahun Baru Tionghoa) di Pura Ulundanu Batur, warga peranakan Tionghoa Bali kembali berkumpul di tanah leluhur mereka: Kintamani, di jantung Pulau Bali.
Iwan Santosa/ Ayu Sulistyowati
Sumber:cetak.kompas.com; Foto: kompas dan kemoning.info









Comments
saya sebagai anak muda di Pinggan, patut berpatisipasi didalamnya, agar tidak ada perbedaan pemahaman tentang sejarah Pura Dalem Balingkang...
RSS feed for comments to this post.