Arkeologi Indonesia

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
HOME Articles Permuseuman Mozaik Peradaban di Tengah Kebun

Mozaik Peradaban di Tengah Kebun

E-mail Print PDF

Museum_di_Tengah_KebunBila mendengar kata museum sebagian pikiran orang biasanya langsung
tertuju pada bangunan tua, angker, kurang rerawat, dan gersang. Tapi buang jauh-jauh bayangan itu saat memasuki "Museum di Tengah Kebun" yang terletak di Jalan Kemang Timur Raya, Nomor 66, Jakarta Selatan.

Sebuah taman yang asri di sisi kiri-kanan sudah menyambut di depan pintu gerbang bergaya Joglo Jawa. Memasuki ke dalam, pandangan akan dimanjakan dengan suasana taman yang apik dan resik. Rumput hijau terawat rapi mendominasi halaman Museum yang memiliki luas 4 ribu meter persegi itu. Penataan harmonis dilakukan dengan pepohonan lainnya. Sedikitnya, Museum di Tengah Kebun memiliki 56 batang pohon kelapa, lebih dari 1.200 pohon palem, tiga batang pohon buah yang berbuah lebat, 18 pohon gelodogan besar, 16 batang kol banda, 30 kemuning, dan beribu pohon perdu.

Keanggunan Museum tidak berhenti sampai di situ. Daya tarik terbesar terletak pada koleksi-koleksi Museum yang berjumlah lebih dari 2 ribu objek peradaban: dari 59 negara di dunia dan 20 provinsi di Indonesia. Maka, memasuki Museum seperti memasuki mozaik kekayaan peradaban dunia dengan berbagai koleksinya. “Saya keliling bumi sudah 26 kali, dalam arti kalau pergi dari barat pulangnya dari timur. Kalau pergi dari timur pulangnya dari barat,” kata pemilik Museum Sjahrial Djalil pada Tempo, awal Juni lalu.

Ia tidak memiliki latar belakang pendidikan arkeologi, melainkan publisistik. Namun minatnya sangat besar terhadap benda-benda bersejarah. Kegiatan mengoleksi benda-benda bersejarah itu telah dilakukannya sejak 41 tahun yang lalu. Dia berburu ke pelosok-pelosok penjuru berbagai negara dan keluar-masuk museum-museum dunia. Sebagian koleksinya juga di dapat dari rumah lelang Christie, London. “Saya langganan Christie yang paling setia,” ujar pemilik biro iklan Ad Force itu.

Kadang pula dia mendapatkan benda bersejarah secara tidak sengaja. Arca Wisnu yang dipajang di ruang Nandiswara, misalnya. Arca ini dibelinya dari orang kampung di sebuah desa di Jawa Tengah. Oleh pemiliknya, bagian kanan arca digunakan untuk mengasah golok. Sebelum itu, arca dengan tinggi 107 sentimeter dan lebar 57 sentimeter ini malah pernah dijadikan jembatan di pematang sawah. “Padahal arca ini dibuat pada abad ke-10,” ujar Sjahrial yang juga ayahanda wartawati senior Linda Djalil.

------------

museum_di_tengah_kebun2Berbagai koleksi itu dipajang di berbagai ruang museum. Nama-nama ruang itu di antaranya ruang Majapahit, ruang kolam Nandiswara, ruang Imari Jepang, ruang Dinasti Ming, ruang Cirebon, ruang Kaisar Wilhelm II, ruang Dewi Sri, ruang Dinasti Tang, ruang Pra-sejarah, serta ruang-ruang lainnya.

Di ruang Pra-sejarah, untuk menyebut contoh, terdapat 179 koleksi. Di ruang ini tersimpan berbagai tembikar dari masa neolitik Cina. Ada yang dari millenium ke-2 Sebelum Masehi (SM), maupun tembikar dari Dinasti Han abad ke-1 SM. Di sini juga tersimpan topeng kayu mumi dari Mesir abad ke-7 SM. Dua topeng kayu mumi ini ditemukan dari dua kuburan yang berbeda di Negeri Firaun tersebut. Ada juga Arca Shabti asal Mesir. Dalam kepercayaan Mesir Kuno, Shabti berfungsi sebagai pelayan orang di kehidupan berikutnya. Arca dari batu ini dibuat pada tahun 664 SM. Yang tak kalah menariknya, di ruang Pra-sejarah ini juga tersimpan patung marmer putih Julius Caesar dan arca marmer putih Isis, istri Dewa Osiris dalam mitologi Romawi. Kedua patung marmer ini dibuat pada abad ke-19 oleh seniman Italia.

Ruang dengan koleksi terbanyak adalah ruang Kaisar Wilhelm II. Di sini terdapat 547 koleksi, termasuk 72 miniatur perak Belanda, yatagon perak dari Turki, arca perunggu Maitreya dari Jawa Tengah abad ke-9, seta ujung panah serta kapak genggang dan pisau Adze dari Meksiko abad ke-3 SM. Ruang ini dinamakan ruang Kaisar Wilhelm II karena begitu memasuki ruang, lukisan cat minyak dengan ukuran besar dari Kaisar Wilhelm II terlihat langsung di dinding timur. Lukisan ini adalah pemberian sang Kaisar pada Gubernur Bank Sentral Prusia sewaktu sang bankir mengakhiri jabatannya setelah 50 tahun mengabdi pada kerajaan.

Selama bertahun-tahun berbagai arca, antefak, tembikar, patung terakota, patung logam, gerabah, porselen, dan benda bersejarah lainnya itu menjadi koleksi pribadi Sjahrial dan dinikmati secara terbatas. Namun, kesadaran akan sejarah dan peradaban ingin ia tularkan pada masyarakat luas. “Supaya masyarakat juga tahu sejarah dan peradaban,” ujarnya. Maka pada September 2010, dia membuka koleksi-koleksinya itu untuk umum melalui Museum di Tengah Kebun. Masyarakat bisa menikmati gratis tanpa dipungut biaya. Sejak dibuka utntuk umum, pengunjung yang datang telah lebih dari 1.500 orang.

Sebagai museum pribadi, Sjahrial membiayai sendiri museumnya. Dia mengungkapkan, dalam sebulan biaya perawatan dan pengamanan museum tidak cukup Rp 30 juta. Selain dilengkapi dengan kamera, alarm, dan alat keamanan lainnya, museum juga dikelola oleh 11 orang karyawan.


Museum dibuka pada hari Rabu, Kamis, Sabtu dan Minggu. Pada hari lainnya, museum ditutup untuk perawatan dan penelitian. Setiap kunjungan dibatasi 7-10 orang. Setiap kelompok pengunjung akan dipandu dengan seorang pemandu yang akan memberikan penjelasan terperinci tentang objek yang dipamerkan, baik dalam bahasa Indonesia dan atau Inggris. Tertarik mengunjungi Museum di Tengah Kebun? Reservasi kunjungan bisa dilakukan di http://www.museumditengahkebun.org/

 

 

Sumber: tempointeraktif.com
 

Comments  

 
#1 2012-06-10 14:01
Ini kok foto-fotonya malah bukan foto-foto Museum di Tengah Kebun ya? Mohon diganti agar pembaca mendapat gambaran yang benar!
 

Add comment


Security code
Refresh

Random Image

Who's Online

We have 49 guests online

Comments

22-09-2014By
Situs Gua Hunian Pra Seja...
Fungsi pada masa sekarang ? readmore
20-09-2014By
Erasmus Gelar Pameran Kar...
Mohon info bagaimana mendapatkan buku itu di indonesia?adakah toko buku impor yg jual? readmore
10-09-2014By
Jejak Mangir, Jejak Pemb...
ada kemungkinan lain tentang kematian ki ageng mangir..karena jika dipikir, meskipun panembahan seno... readmore
07-09-2014By
Bisnis Uang Lama Menguntu...
Mau jual koleksi uang kuno gambar pak Karno keluaran tahun 1964 nomnal 1.000 dan 100 rupiah readmore
07-09-2014By
Bisnis Uang Lama Menguntu...
Mau jual koleksi uang kuno gambar pak Karno keluaran tahun 1964 nomnal 1.000 dan 100 rupiah readmore
06-09-2014By
The Elephant Cave (Goa Ga...
hiwassee mental health cleveland tn viagra online st alphonsus medical group readmore
02-09-2014By
The History of Java - Tho...
coba cari di Gramedia... buku ini termasuk buku yang laris, keluar langsung habis readmore
01-09-2014By
The History of Java - Tho...
gan bisa di download ga/ atau dimana sy bisa dapatkan buku ini readmore
29-08-2014By
Logo Surabaya Salah Kapra...
gak usah eker ekeran mergo lambang utowo logo wes jarno ae logo koyok ngono tapi kudu di tegesi nek ... readmore
28-08-2014By
Candi Agung Peninggalan M...
qta rakyat pedesaan qta haus akan sejarah cagar budaya candi agung. MPPMT terjunlah langsung ksni ? ... readmore
RSS